Bagi umat di zaman Rasulullah Saw, bulan Ramadhan tidak hanya sekedar sebagai bulan untuk berpuasa, untuk tidur atau bermalas-malasan. Lebih dari itu, Ramadhan adalah bulan penuh aktivitas dan momen penting lainnya.
Sebelum hijrah, bulan Ramadhan merupakan bulan Quran, yaitu bulan diturunkannya Al-Quran untuk pertama kali. Di samping itu bulan ini juga “bulan tadarus” Rasul bersama malaikat Jibril. Yaitu untuk mengulang kembali seluruh Al-Quran yang telah diwahyukan. Dan khusus pada tahun terakhir sebelum Rasulullah wafat, malaikat Jibril datanga dua kali untuk tadarus Quran bersama Nabi Saw.
Ada sembilan peristiwa penting yang sempat disaksikan Rasulullah setelah hijrah,
- Perang melawan orang kafir Quraisy sebanyak enam kali di bulan Ramadhan.
- Perang Badar dan penaklukan kota Makkah (Fathu Makah).
- Pernikahan Ali dan Fatimah.
- Pernikahan Rasulullah Saw dengan Hafshah binti Umar bin Khathab ra.
- Pernikahan Rasulullah Saw dengan Zainab binti Khuzaimah.
- Putri Rasulullah Saw yang bernama Ruqayah meninggal dunia
- Hancurnya berhala-berhala, seperti Latta, `Uzza, Manat, dan Suwa` milik kaum musyrik.
- Runtuhnya Masjid Adh-Dhirar yang dibangun orang-orang munafik untuk menghancurkan Islam.
- Datangnya rombongan delegasi kaum Tsaqif yang ingin masuk Islam.
Yang paling penting dari semua peristiwa tersebut di atas adalah Perang Badar. Karena merupakan penentu keberadaan umat Islam. Akankah jaya atau hancur untuk selamanya?
Ketika beristirahat di tengah perjalanan, Rasulullah Saw mendengar bahwa Abu Sufyan telah mengetahui keberangkatan beliau beserta pasukannya. Beliau mengajak pasukannya untuk segera bergerak kembali hingga tiba di dekat Badar. Begitu mengetahui pasukan Quraisy sudah siap menyambut serangan kaum muslimin dengan senjata lengkap, padahal kaum muslimin waktu itu hanya membawa safar seadanya, maka Rasulullah mengadakan rapat kilat dengan para sahabatnya.
Namun di antara mereka tidak ada yang berani mengutarakan pendapatnya, sampai-sampai Rasulullah bersabda, “Wahai manusia! Berikan aku saran atau pertimbangan. Barangkali ini pertemuan pertama untuk membahas persoalan peperangan. Teruskan kita maju berperang melawan orang kafir itu atau sebalikna? Betapapun kita telah terikat janji dengan Allah untuk tetap melawan kaum kafir. Dan Allah pasti membantu kita.”
“Dan ingatlah ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah untukmu. Tetapi Allah hendak membenarkan yang benar dengan ayat-ayatNya dan memusnahkan orang-orang kafir sampai ke akar-akarnya.” (Al-Anfal: 7).
Akhirnya hasil musyawarah memutuskan agar kaum muslimin tetap maju berperang. Mereka harus bertekad mengerahkan segenap kekuatan. Oleh sebab itulah seorang sahabat, Sa`ad berucap, “Wahai Rasulullah, aku tidak mengatakan seperti apa yang dikatakan Bani Israel kepada Musa as. ‘Pergilah kamu dan Tuhanmu, dan berperanglah kalian berdua, sesungguhnya aku disini duduk-duduk saja menunggu,’ tapi aku katakana,’Pergilah kamu dan Tuhanmu, dan aku akan berperang bersama kalian. Demi Allah, sekalipun harus mengarungi lautan, asalkan bersamamu, tentu akan aku lakukan.”
Itulah tanggung-jawab seorang mukmin dengan kesadaran imannya. Dan akhirnya pasukan Badar Rasulullah meraih kemenangan gemilang. Dan peristiwa itu diabadikan dalam surat Al-Anfal.























